News/Berita

Ridwan Bae Minta Ali Mazi Tegas Deportasi TKA Asal China Tak Ada Karantina Lagi

Peringatan Ridwan Bae ini disampaikan menyusul beredarnya video viral puluhan TKA China pekerja tambang PT VDNI yang masuk via Bandara Haluoloe.

Keberadaan TKA Tiongkok itu dinilai sangat meresahkan masyarakat di tengah perang menangkal penyebaran virus mematikan asal negeri China.

Bagi politisi Golkar itu, pemerintah Provinsi Sultra tak boleh setengah hati melawan ancaman virus Corona yang kini mewabah di sejumlah wilayah di Indonesia dan belahan dunia.

“Saya minta Gubernur tegas. Tindak lanjuti itu keputusan pemerintah. Pemegang paspor China tolak. Baik datang maupun transit,” ujar mantan Bupati Muna dua periode itu.

Ia juga meminta Ali Mazi tak melindungi TKA China yang tertangkap basah masuk ke Sultra dengan dalih ‘karantina’ atau bukan ‘otoritas’ sebagaimana disampaikan dihadapan publik.

Bagaimana pun, kata Politisi Golkar itu, sebagai 01 Ali Mazi adalah pemegang otoritas wilayah Sultra.

Dengan dalih melindungi rakyatnya dari ancaman virus mematikan, Ali Mazi bisa mengambil langkah blokade arus masuk TKA China ke Sultra. Tidak malah menutup mata dan abai terhadap kondisi ‘darurat’ wabah.

“Tolak kehadiran mereka,” ucapnya.

“Jangan lagi ada karantina. Harus berani bela rakyat. Jangan nanti ada yang tertular baru panik,” sambung Ridwan Bae.

Sebagai informasi, total 49 WNA China masuk ke Sultra, Minggu 15 Maret 2020. Kabar ini bocor setelah salah seorang warga mendokumentasikan kedatangan TKA China di Bandara Haluoleo.

Pascaviral, Harjono diamankan POM Lanud Haluoleo. Polda Sultra menyebut istilah ‘corona masuk’ dalam video Harjono telah memancing kegaduhan dan panik masyarakat Sultra.

Sementara itu, Pemprov Sultra melalui Gubenur Sultra, Ali Mazi meyakinkan masyarakat jika 49 TKA China itu akan dikarantina guna mencegah penularan virus Covid-19. Inilah mengapa ia meminta agar masyarakat tak panik.

Editor: Effendi | GR

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close